Mati

Aku sungguh ingin mati..
Mati dan meninggalkan manfaat yang baik bagi sesama

Aku sungguh ingin mati..
Dalam keadaan yang baik, dikelilingi keluarga yang baik, istri anak dan cucu yang jauh lebih baik dari diriku

Aku sungguh ingin mati..
Membawa butir amalan yang cukup membuatku selamat dari ancamanMu, amalan yang membuatMu ridho dan memberikan berkahMu padaku.. Mencium wangi surga milikMu, hinggap di dalamnya, menyaksikan sungai mengalir di bawah kakiku, tinggal dalam istanaku sendiri

Aku sungguh ingin mati..
Bila telah membahagiakan orang tuaku, mengabdikan seumur hidupku yang di mataMu-pun tidak akan lebih dari cuilan kecil dibandingkan jasa mereka

Aku sungguh ingin mati..
Dalam keadaan mengingatMu, mengharap ridhoMu, bersaksi di jalanMu

Aku sungguh ingin mati..
Kali ini untuk membuatku lari dari tekanan hidup yang aku sulit tuk lewati

Aku sungguh ingin mati..
Ketika aku tidak teringat padaMu, resah dalam hatiku, Engkau sembunyikan kebahagiaan dan ketenangan karena kotornya kalbuku

Aku sungguh ingin mati..
Agar aku berhenti dalam mendustaiMu, sebelum semua bagian tubuh ini makin Engkau benci, ya Allah

Aku sungguh ingin mati..
Tinggalkan hidupku yang aku tak syukuri, tinggalkan gelisah yang aku tak bisa lepaskan, tinggalkan dosa yang akan terjadi kemudian

Namun aku sungguh tidak ingin mati..
Saat kutolehkan kepala ke belakang dan kudapati dosa-dosa ku yang sungguh banyak tanpa tepi
Saat kulihat belum ada manfaat yang kutinggalkan untuk dunia dan akhiratku
Saat belum berhasil kubangun keluarga yang Engkau amanahkan
Saat belum cukup tabungan amalku demi mendapat ridhoMu
Saat belum mungkin ku mendekati surga bahkan untuk mencium wanginya
Saat belum kubahagiakan kedua orang tuaku yang kini makin tua
Saat belum kudapati getar hatiku ketika mendengar namaMu disebut
Saat belum kudapati guncang diriku ketika mendengar ayat-ayatMu dibacakan
Saat belum kudapati berkahMu untuk semua yang kukerjakan
Saat belum kudapati ridhoMu untuk semua yang kulakukan

Aku sungguh tidak ingin mati..

Bayangan tentang Perbedaan

Kita semua berbeda. Diciptakan olehNya berbeda. Diberikan kemampuan yang berbeda. Muka yang berbeda. Sifat yang berbeda. Semangat yang berbeda. Mimpi yang berbeda. Proses yang berbeda. Sahabat yang berbeda. Orang tua yang berbeda. Pasangan yang berbeda. Rezeki yang berbeda. Pekerjaan yang berbeda.

Namun di balik semua perbedaan, bukankah kita diciptakan hanya untuk mengharap ridha-Nya?

Ya, perbedaan bukan masalah asal tujuannya adalah satu. Persepsi para hamba ini lah yang membeda-bedakan kita. Bila tujuan adalah sama, pasti akan Dia berkahi segala keputusan yang kita jalani.

Semua sudah ada ketetapannya beserta padanannya. Seperti apa rezeki kita. Seperti apa sahabat kita. Seperti apa capaian kita. Seperti apa proses kita di masa lalu. Seperti apa masa depan kita. Siapa yang akan menemani kita menghabiskan sisa hidup kita. Siapa yang akan kita temui sepulang kerja nanti. Semuanya hanya kebetulan yang sudah Dia tetapkan. Dan tugas kita lah untuk ridho terhadap semua pilihan-Nya.

Bayang gelap.. Begitu banyak bayang hitam kelam menutup mata kita dari setiap pilihan-pilihan yang sudah disediakan. Bukan sulit, tetapi bukan pula hal yang mudah untuk dilewati. Saya pun begitu. Diselubungi cahaya gelap sehingga tidak melihat jalan lurus yang sekadar ditutupi rintangan. Ya, padahal jalan itu hanya ditutupi tirai hitam namun kita pun tersesat dalam kesemrawutan pikiran.

Itulah kenapa kita perlu sahabat yang bisa membantu meluruskan diri kita. Kita perlu pendamping, terutama keluarga, yang bisa mengingatkan kita bahwa ada yang salah, ada yang kurang tepat, ada potensi yang bisa dimanfaatkan dari kemampuan kita.

Keluarga akan menjadi cahaya yang akan menerangi gelap itu. Sehingga akan terlihatlah jalan yang telah Allah sediakan. Keluarga akan menjadi benteng yang paling kokoh untuk memerangi permasalahan-permasalahan hidup yang paling pelik sekalipun.

Perbedaan tidak akan lagi berarti, asal kesamaan visi ibadah telah dipenuhi. Perbedaan tidak akan lagi menyakiti, namun malah akan menyatukan hati menjadi lebih bersinergi. Perbedaan tidak akan lagi memisahkan, namun malah akan mengeratkan. Perbedaan akan menjadi jalan kita mencapai ridha Allah menuju surga. InsyaAllah